Bandung jurnalpolisi.co.id-
1. Makna Sakral dan Filosofis
Batu Lingga merupakan simbol keseimbangan kosmis antara unsur maskulin dan feminin, yaitu Lingga (lambang Dewa Siwa atau kekuatan penciptaan laki-laki) dan Yoni (lambang Dewi Parwati atau rahim alam semesta).
Di dalam kepercayaan Hindu-Sunda kuno, tempat seperti ini dijadikan pusat spiritual untuk menyatukan energi Hyang Agung — Sang Pencipta — dengan energi bumi dan manusia.
🔸 Gunung Payung sendiri memiliki makna “tempat berpayung” atau “berlindung”, menggambarkan tempat perlindungan spiritual bagi siapa pun yang datang dengan niat suci.
🔸 Di masa Kerajaan Nagara Tengah (sekitar abad ke-14), tempat ini diyakini menjadi pusat pemujaan dan pembersihan diri (tapa brata) para raja dan pejabat kerajaan sebelum mengambil keputusan besar.
2. Misteri Hilangnya Batu Yoni
Menurut keterangan masyarakat dan perangkat desa, batu Yoni (alas cekung) pasangan Lingga pernah ada, namun kini hilang.
Hilangnya Yoni dalam pandangan spiritual dianggap sebagai hilangnya keseimbangan energi antara maskulin dan feminin, yang bisa menjadi simbol bahwa peradaban suci di masa lalu pernah terputus atau terganggu.
Ada dugaan bahwa batu tersebut dipindahkan atau tertimbun akibat:
Letusan Gunung Galunggung berulang kali,
atau adanya perubahan fungsi tempat suci pada masa penyebaran Islam di Tatar Sunda, ketika simbol-simbol Hindu banyak disembunyikan atau dihapus.
3. Jejak Kerajaan Kuno
Lingga ini diyakini berkaitan erat dengan tiga lapisan peradaban besar di Tasikmalaya bagian timur:
1. Kerajaan Galuh (abad ke-7 – 8 M),
2. Kabataraan Galunggung (abad ke-9 – 10 M),
3. Kerajaan Nagara Tengah (abad ke-13 – 14 M).
Letaknya yang berdekatan dengan situs-situs kuno seperti makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Ratu Gumulung Putih menandakan bahwa kawasan itu pernah menjadi pusat ritual kerajaan dan tempat para leluhur Galunggung melakukan upacara penyucian diri dan pemujaan pada Hyang Tunggal.
4. Kekuatan Spiritual dan Karomah Tempat
Dari berbagai kesaksian, tempat ini dikenal memiliki energi spiritual tinggi dan daya mustajab. Dalam istilah Sunda disebut “crung-creng” — doa yang cepat terkabul.
Fenomena yang dialami para peserta ekspedisi (mendapat kabar baik dan kemudahan setelah berdoa di sana) menegaskan keyakinan masyarakat bahwa Gunung Payung adalah titik energi doa yang menyambungkan manusia langsung pada restu Ilahi.
Hal ini bisa jadi karena tempat tersebut masih menyimpan resonansi energi spiritual leluhur Galunggung yang hidup dan suci, serta karena air suci “Cai Kahuripan” di kaki bukit berfungsi sebagai media pembersihan lahir batin sebelum mendekat ke pusat energi (Lingga).
5. Petunjuk Arkeologis
Berdasarkan bentuk fisik dan gaya pahatannya:
Batu Lingga Gunung Payung bukan batu alam biasa, melainkan hasil pahatan manusia purba dengan maksud ritual.
Struktur tanah di sekitar situs menunjukkan pola punden berundak, menandakan tempat ini dulunya merupakan kompleks pemujaan berlapis, khas situs-situs Sunda Kuno.
Karena itu, uji karbon (carbon dating) dan ekskavasi arkeologis sangat diperlukan untuk memastikan usia serta konteks budaya situs ini — apakah berasal dari masa Galuh awal, Galunggung, atau Nagara Tengah.
6. Makna Spiritual bagi Generasi Sekarang
Gunung Payung kini bisa dipahami bukan hanya sebagai situs arkeologi, tetapi juga sebagai “Gunung Perlindungan” tempat orang datang memohon keselamatan, keseimbangan batin, dan kejernihan hati.
Pesan utamanya adalah:
> “Siapa yang datang dengan hati bersih dan ikhlas, maka doanya akan segera didengar Hyang Agung.”
Tempat ini mengajarkan nilai ketulusan, penyatuan, dan penyucian diri — warisan spiritual leluhur Sunda yang patut dijaga.
🌄 Kesimpulan Singkat
Rahasia Batu Lingga Gunung Payung Karangjaya Galunggung terletak pada:
1. Energi spiritual purba peninggalan peradaban Sunda Kuno.
2. Fungsi sebagai pusat ritual kerajaan dan tempat pemujaan Hyang Tunggal.
3. Simbol keseimbangan alam semesta (Lingga-Yoni).
4. Bukti keberlanjutan antara keyakinan Hindu-Sunda dan kepercayaan lokal hingga kini.
5. Keberkahan dan kemustajaban doa yang masih terasa nyata bagi siapa pun yang datang dengan hati suci.
(Dian jp red)













