LEMBATA – Jurnal Polisi.
Riuh sorak-sorai ratusan penonton menggema di stadion mini futsal SMA Negeri 1 Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Kamis (13/8/2026).
Laga antara SDN Baopukang kontra SDI 1 Loang dalam rangkaian peringatan HUT ke-33 SMA Negeri 1 Nagawutung sekaligus memeriahkan Bulan Bahasa berlangsung sengit dan menyita perhatian penonton.
Menjelang sore, ketika cahaya matahari mulai condong ke ufuk barat, suasana di sekitar lapangan futsal terasa semakin hidup. Hembusan angin pesisir menyapa lembut, sementara langit Nagawutung perlahan diselimuti warna senja.
Di tengah suasana alam yang mulai teduh, suara peluit wasit, hentakan kaki para pemain dan sorak-sorai pendukung berpadu menjadi satu.
Lapangan futsal seolah menjadi saksi perjuangan anak-anak pesisir yang membawa nama dan kebanggaan sekolah masing-masing.
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim langsung tampil agresif. Perebutan bola berlangsung ketat, serangan silih berganti, sementara para pemain berusaha menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Memasuki babak pertama, SDN Baopukang tampil efektif dalam membangun serangan. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil.
SDN Baopukang berhasil mencetak dua gol ke gawang SDI 1 Loang dan menutup babak pertama dengan keunggulan 2–0.
Keunggulan tersebut sontak disambut riuh pendukung SDN Baopukang. Namun, tertinggal dua gol tidak membuat SDI 1 Loang menyerah.
Memasuki babak kedua, SDI 1 Loang meningkatkan tekanan. Permainan mereka semakin agresif dan mulai mengancam pertahanan SDN Baopukang.
Upaya tersebut membuahkan hasil setelah SDI 1 Loang memperoleh hadiah tendangan penalti.
Eksekusi dari titik putih berhasil mengoyak gawang SDN Baopukang. Kedudukan berubah menjadi 2–1.
Gol tersebut menjadi titik balik pertandingan. SDI 1 Loang semakin percaya diri dan terus menekan pertahanan lawan.
Tekanan demi tekanan kembali menghasilkan peluang. SDI 1 Loang kembali memperoleh tendangan penalti.
Eksekusi dari titik putih berhasil menembus gawang SDN Baopukang dan mengubah kedudukan menjadi 2–2.
Stadion mini futsal pun bergemuruh. Pendukung SDI 1 Loang bersorak merayakan gol penyama kedudukan, sementara pendukung SDN Baopukang terus memberikan semangat kepada timnya.
Skor 2–2 membuat pertandingan semakin menarik. Kedua tim kembali meningkatkan tempo permainan dan berusaha mencari gol penentu kemenangan.
17 Sekolah Pesisir Adu Bakat.
Berdasarkan data yang diperoleh wartawan media ini, turnamen futsal tersebut diikuti 17 sekolah, terdiri dari 12 sekolah tingkat SD dan lima sekolah tingkat SMP dari wilayah pesisir Kecamatan Nagawutung.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang perebutan juara. Para pelajar diberikan ruang untuk mengembangkan bakat, meningkatkan kepercayaan diri, membangun kerja sama tim, serta belajar tentang disiplin, tanggung jawab dan sportivitas.
Kemeriahan pertandingan semakin terasa dengan kehadiran ratusan penonton yang memenuhi area stadion mini.
Sorak-sorai pendukung dari kedua sekolah terus menggema setiap kali pemain melakukan serangan maupun menciptakan peluang.
Turnamen tersebut juga mendapat dukungan Bank NTT Cabang Lembata sebagai sponsor.
Dukungan tersebut turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan olahraga pelajar sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda pesisir untuk mengembangkan bakat dan potensi.
Bukan Sekadar Soal Menang dan Kalah
Kepala SMA Negeri 1 Nagawutung, Patris Beyeng, mengatakan turnamen futsal tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-33 SMA Negeri 1 Nagawutung sekaligus memeriahkan Bulan Bahasa.
Laga SDN Baopukang kontra SDI 1 Loang menjadi salah satu gambaran sengitnya persaingan dalam turnamen tersebut. Keunggulan 2–0 SDN Baopukang pada babak pertama mampu dikejar SDI 1 Loang menjadi 2–2 melalui dua gol yang sama-sama lahir dari titik penalti.
Namun, di balik skor dan persaingan, ada cerita yang jauh lebih besar. Dari lapangan futsal Nagawutung, para pelajar pesisir tidak hanya belajar bagaimana mencetak gol dan mengejar kemenangan.
Mereka belajar tentang keberanian menghadapi tekanan, pantang menyerah ketika tertinggal, bekerja sama dalam satu tim, menghargai lawan dan menerima hasil pertandingan dengan jiwa sportivitas.
Sementara matahari perlahan tenggelam dan angin pesisir semakin terasa, suara sorak penonton masih menggema di lapangan.
Sore itu, Nagawutung tidak hanya menyaksikan pertandingan futsal. Ia menyaksikan tumbuhnya keberanian dan mimpi anak-anak pesisir.
Di bawah langit senja Nagawutung, 17 sekolah tidak hanya mempertaruhkan gengsi, tetapi juga menunjukkan bahwa dari lapangan sederhana di pesisir, semangat, bakat dan prestasi generasi muda dapat tumbuh dan menemukan jalannya.
Sebelumnya, Kepala Sekolah SMA Negeri I Nagawutung,Patris Beyeng mengatakan, Turnamen ini kami laksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-33 SMA Negeri 1 Nagawutung sekaligus memeriahkan Bulan Bahasa. Kami melibatkan sekolah SD dan SMP, khususnya yang berada di wilayah pesisir Nagawutung,” ujarnya kepada wartawan Jurnal Polisi, Rabu (12/8/2026) sore.
Menurut Patris, olahraga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.
“Kami berharap bukan hanya soal menang atau kalah. Anak-anak juga belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan sportivitas. Ini yang paling penting dalam kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Patris menjelaskan, rangkaian HUT ke-33 SMA Negeri 1 Nagawutung telah dimulai sejak Sabtu, 8 Agustus 2026. Puncak ulang tahun sekolah secara kalender jatuh pada 23 Agustus 2026, sementara seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada 24 Agustus 2026.
Penyesuaian jadwal tersebut dilakukan karena terdapat agenda keagamaan yang melibatkan warga sekolah, baik umat Muslim maupun Katolik.
“Puncaknya sebenarnya tanggal 23 Agustus karena itu hari ulang tahun sekolah. Tetapi karena ada perayaan ibadah, dakwah untuk teman-teman Muslim, lalu ada perayaan Ekaristi untuk teman-teman Katolik, maka kegiatan berakhir pada tanggal 24 Agustus,” ungkapnya.
Sore yang Menyimpan Cerita.
Jurnalis: Dhika Ahmad M











