Ojol Berau Keluhkan Antrian Panjang BBM Dan Berharap Kedepan Bisa Menjadi Prioritas

BERAU, KALTIM – Jurnal Polisi – Di balik hangatnya suasana sahur bersama Bupati Berau pada Senin (16/3/2026) dini hari, terselip keresahan mendalam yang dirasakan para pengemudi ojek online (ojol) di Bumi Batiwakkal. Masalah sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi curhatan utama yang disampaikan langsung para pejuang rupiah kepada Bupati Sri Juniarsih Mas.

Kondisi ini terungkap saat Bupati menyambangi salah satu dari tiga pangkalan ojol yg ada diberau. Para pengemudi dari layanan Gojek, Grab, dan Maxim mengeluhkan bahwa waktu produktif mereka di jalan sering kali tersita habis hanya untuk mengantre BBM. Persoalan ini dianggap sangat krusial, mengingat kelancaran mobilitas adalah kunci utama bagi mereka untuk mengejar orderan dan memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan hidup selama bulan Ramadan.

Salah satu pengemudi mengungkapkan bahwa sulitnya mendapatkan BBM saat ini telah menjadi beban tambahan bagi para driver. Selain harus bersaing mendapatkan orderan, mereka juga harus berjibaku dengan antrean yang mengular setiap harinya. Aspirasi tersebut disampaikan dengan harapan besar agar pemerintah daerah dapat memberikan solusi konkret atau kebijakan khusus yang memudahkan para pekerja sektor transportasi online dalam mengakses bahan bakar.

“Harapan kami ke depan, semoga orderan semakin lancar dan yang paling penting adalah soal BBM ini. Sekarang cukup sulit karena harus antre panjang di SPBU. Kami memohon agar ke depan para driver bisa mendapatkan prioritas atau kemudahan akses agar tidak harus menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk mengantre,” ujar salah satu pengemudi.

Mendengar keluhan tersebut, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan perhatian serius terhadap aspirasi yang disampaikan. Ia mengakui bahwa kehadiran para pengemudi ojek online merupakan salah satu penggerak roda ekonomi di Kabupaten Berau yang perlu mendapatkan perhatian. Selain memberikan bantuan sembako dan dukungan moral sebagai bentuk kepedulian di bulan suci, masukan mengenai kendala BBM ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi distribusi dan akses energi bagi masyarakat pekerja.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut diakhiri dengan harapan kolektif agar tantangan di lapangan, terutama mengenai ketersediaan dan kemudahan akses BBM, dapat segera terurai.

Bagi para driver ojol, perhatian pemerintah bukan hanya soal bantuan materi, melainkan juga keberanian untuk membenahi sistem yang selama ini menghambat mata pencaharian mereka di jalanan Berau.