Hotel Tjimahi, Ikon Sejarah Kota Cimahi Dikabarkan Akan Dijual CIMAHI — Hotel Tjimahi merupakan salah satu ikon bersejarah Kota Cimahi dan tercatat sebagai hotel tertua yang berdiri sejak tahun 1927.

Jurnalpolosi.co.id-Bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, mulai dari masa kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan, hingga era awal Republik Indonesia.

Pada masa 1950-an, bertepatan dengan kepemimpinan Presiden Soekarno, Hotel Tjimahi berada pada puncak kejayaan. Saat itu, hotel ini banyak digunakan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai tempat menginap. Biaya penginapan bukan ditanggung pribadi, melainkan dibayarkan oleh negara.

Sejumlah tokoh nasional juga tercatat pernah tinggal sementara di Hotel Tjimahi. Di antaranya Letjen TNI Sarwo Edhie Wibowo bersama keluarganya, termasuk putrinya Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono), istri Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain itu, terdapat pula nama Doni Monardo, mantan Kepala BNPB, serta figur sejarah kontroversial Raymond Westerling.

Memasuki masa peralihan kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, kejayaan Hotel Tjimahi mulai meredup. Pemerintah tidak lagi menanggung biaya penginapan, sehingga beban operasional hotel semakin berat. Ditambah tidak adanya penerus keluarga yang melanjutkan pengelolaan, kondisi hotel kian menurun.
Pada tahun 2026

, saat Hotel Tjimahi memasuki usia 99 tahun, muncul kabar penjualan hotel yang beredar di media sosial TikTok. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa hotel yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.245 meter persegi itu ditawarkan dengan harga Rp35 miliar.

Beban biaya operasional yang tinggi serta pajak bumi dan bangunan (PBB) yang besar dinilai tidak lagi sebanding dengan pendapatan hotel, terutama pascapandemi Covid-19. Hal ini disebut menjadi alasan utama pemilik memutuskan untuk menjual bangunan bersejarah tersebut.

Hotel Tjimahi selama hampir satu abad telah menjadi saksi perkembangan Kota Cimahi dari masa kolonial hingga era modern. Kabar penjualannya menimbulkan keprihatinan sekaligus harapan agar bangunan bersejarah ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah daerah.

(Dian jp red)