LEMBATA – Jurnal Polisi
Hamparan tanah di Kabupaten Lembata diyakini masih menyimpan jejak kehidupan manusia yang telah berusia ribuan tahun. Keyakinan itu kini dibuktikan melalui penelitian arkeologi yang dilakukan tim gabungan dari Program Doktor (S3) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Center for Prehistoric and Indigenous Studies (CPIS), serta peneliti dari Universitas Beijing, Tiongkok.
Penelitian tersebut dikoordinasikan di lapangan oleh Hamdan Hamado, putra asli Lembata, yang bersama tim berupaya mengungkap kembali sejarah Pulau Lomblen serta menelusuri peran pentingnya dalam perkembangan peradaban manusia pada masa prasejarah.
Menurut Hamdan, penelitian ini berawal dari laporan seorang pastor yang pada masa lalu menemukan sejumlah tinggalan arkeologi di Lembata. Meski bukan seorang arkeolog, laporan yang disusunnya kemudian menjadi referensi penting bagi para peneliti hingga saat ini.
“Laporan itu menjadi rujukan bagi penelitian-penelitian berikutnya. Dari situlah kami mencoba melihat kembali sejarah Lembata dan bagaimana perannya pada masa lampau,” ujarnya.
Hamdan menjelaskan, penentuan lokasi ekskavasi dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, bukan sekadar dugaan. Tim telah memiliki referensi dari penelitian terdahulu, termasuk hasil pengamatan terhadap singkapan tanah akibat abrasi yang memperlihatkan susunan lapisan tanah.
“Kami sudah memiliki referensi. Dari singkapan tanah itu kami bisa memperkirakan pada kedalaman berapa kemungkinan masih terdapat tinggalan budaya manusia masa lalu. Jadi penggalian dilakukan berdasarkan data, bukan menebak-nebak,” jelas kepada wartawan media ini, Jumat ( 31/7/26).
Dalam proses ekskavasi, Ia menyebutkan , tim tidak menetapkan batas kedalaman tertentu. Penggalian akan terus dilakukan selama masih ditemukan artefak seperti pecahan gerabah, tulang, batu, maupun tinggalan budaya lainnya.
“Kami berhenti menggali ketika sudah tidak ditemukan lagi peninggalan manusia masa lalu. Selama masih ada temuan, penggalian akan terus dilakukan hingga lapisan tanah dinyatakan steril dari tinggalan budaya,” katanya.
Setiap artefak yang ditemukan didokumentasikan secara rinci, mulai dari posisi, arah mata angin, kedalaman, hingga lapisan tanah tempat benda tersebut berada. Seluruh temuan kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengetahui usia, bahan pembuatannya, serta kemungkinan keterkaitannya dengan budaya masyarakat Lembata saat ini.
Melalui analisis tersebut, Kata Dia, para peneliti dapat merekonstruksi sejarah kehidupan manusia dan perubahan lingkungan pada masa lampau. Namun, Hamdan menegaskan bahwa kegiatan ekskavasi sama sekali tidak memengaruhi kondisi geologi, seperti gempa bumi maupun aktivitas gunung api.
“Penelitian arkeologi tidak menyebabkan ataupun mengurangi potensi gempa maupun letusan gunung. Yang kami pelajari adalah rekam jejak sejarah yang tersimpan di dalam tanah,” tegasnya.
Hamdan mengungkapkan, potensi arkeologi di Kabupaten Lembata masih sangat besar dan menyimpan banyak lokasi yang layak diteliti. Pada tahap awal, tim memusatkan penelitian di tiga titik ekskavasi, yakni Situs Lewoleba I yang berada di belakang Kantor Polres Lembata sebagai lokasi utama, Situs Lewoleba II di kawasan belakang Gereja Bethel, area Komak, serta satu lokasi lainnya di Desa Waipukang, Kecamatan Ile Ape.
Ketiga lokasi tersebut dipilih berdasarkan hasil survei dan referensi ilmiah yang menunjukkan tingginya potensi tinggalan arkeologi.
Selain mengungkap sejarah masa lalu, penelitian ini juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Tim peneliti turut melibatkan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan ekskavasi.
“Untuk sementara kami melibatkan 14 tenaga kerja lokal. Jumlah itu kemungkinan akan bertambah sesuai kebutuhan penelitian di lapangan,” ujar Hamdan.
Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal tidak hanya membantu kelancaran proses penelitian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat serta menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang tersimpan di Lembata.
Melalui kolaborasi antara peneliti nasional, peneliti internasional, dan masyarakat setempat, penelitian ini diharapkan mampu membuka lembaran baru sejarah Pulau Lomblen.
Hasil penelitian tersebut diharapkan memperkaya data ilmiah mengenai kehidupan manusia prasejarah, memperkuat posisi Lembata sebagai salah satu kawasan penting dalam kajian arkeologi Indonesia, serta menjadi pijakan bagi pelestarian cagar budaya dan pengembangan wisata sejarah di masa mendatang.
Jurnalis; Dhika Ahmad M







