Bengkayang (jurnalpolisi.co.id),– Event Budaya Dayak “Barape Sawa” Tahun 2024 Kabupaten Bengkayang telah resmi di buka, senin 27 Maret 2024. Kegiatan Budaya Adat Dayak terbesar di Kabupaten Bengkayang tersebut pun akan berlangsung dari tanggal 27 – 31 Mei 2024.
Saat Pembukaan terlihat antusias masyarakat Kabupaten Bengkayang di segala penjuru Kecamatan ( Dusun – Desa), turut hadir untuk menyaksikan gelaran Budaya Adat Bakati yang menjadi acara tahunan Kabupaten Bengkayang tersebut.
Saat kegiatan pembukaan acara Event Budaya Adat Dayak “Barape Sawa” Kabupaten Bengkayang, Majelis Adat Dayak Nasional melalui Sekretaris Jenderal, Yakobus Kumis dalam sambutannya terus mengagungkan kepada generasi-generasi Dayak untuk tetap menjaga dan melestarikan adat dan Budaya Dayak bahkan sampai ke tingkat Internasional.
Dirinya juga mengaskan, bahwa generasi muda dayak harus bisa memiliki Motivasi, Inovatif, berfikir secara kritis, dan Mandiri. Sehingga bisa menjadi manusia yang unggul dan bisa bersaing secara kompetitif di semua bidang kehidupan manusia.
“Karena jangan harap untuk kedepannya kita masyarakat Dayak untuk memperoleh jabatan, memperoleh penghasilan yang baik dan di pakai oleh orang jika kita tidak mempunyai kualitas yang lebih,” tegas Yakobus Kumis dalam sambutannya. Senin, 27 Mei 2024 sore pukul 17 : 20 Wib.
Kemudian Yakobus Kumis menekankan, mulai sekarang generasi Dayak harus mempersiapkan dirinya masing-masing agar tidak kalah bersaing dengan orang lain, sebab Generasi Emas Dayak harus menjadi tuan di tanah nya sendiri.
“Mau masuk sekolah Kedinasan, Akpol, Akmil, TNI/Polri, dan sebagainya persiapkan diri secara baik-baik, jika ada penyimpangan sampaikan kepada kami Majelis Adat Dayak Nasional. Jangan lalu tidak lulus menyalahkan orang, tapi tidak introspeksi diri, seperti tiap hari minum arak sekali di tes darahnya mengandung alkohol, begitu dengan paru paru sudah rusak karena setiap malam begadang,” ucap Sekjen MADN, Yakobus Kumis.
Selanjutnya ia juga berharap dengan kesakralan dan Keindahan Event Budaya Adat Dayak “Barape Sawa” tersebut, sejatinya perlu di kembangkan dan di lestarikan menjadi sebuah sejarah melalui Buku, agar anak dan cucu Generasi Dayak mengetahuinya.
(Tino)













