Flores Timur Jurnal Polisi.co.id-
Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, merupakan salah satu desa pesisir di timur Pulau Solor yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, serta semangat kebersamaan yang kuat. Desa ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perkampungan Muslim pesisir Lamakera, yang dikenal sebagai wilayah dengan nilai adat dan keumatan yang terjaga lintas generasi.
Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, menjelaskan bahwa Motonwutun secara administratif berdiri sejak tahun 1961, dengan kepala desa pertama almarhum Samra Rahim. Sejak itu, desa ini terus berkembang dan kini dipimpin oleh kepala desa terpilih kesembilan.
“Saya dilantik pada tahun 2022 dalam usia 31 tahun dan menjadi kepala desa termuda dalam sejarah Motonwutun. Saat ini, kepemimpinan saya telah memasuki tahun kelima,” ujar Mirdan Kepala Wartawan Media Jurnal Polisi Sabtu (14/2/2026).
Sebagai desa dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Motonwutun memiliki Mushola Baburrahmah Tanjung Motonwutun yang dibangun sejak tahun 2022. Mushola ini merupakan anakan dari Masjid Al-Ijtihad Lamakera, simbol persatuan umat dengan filosofi tujuh pintu masjid yang merepresentasikan tujuh suku besar di Lamakera.
Menurut Mirdan, mushola tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat diskusi, musyawarah, serta pembahasan berbagai persoalan keumatan dan sosial kemasyarakatan.
Secara historis,
Perkampungan Lamakera dihuni oleh tujuh suku besar. Empat di antaranya berada dalam wilayah administratif Desa Watobuku, yakni Suku Kampung Lamakera, Emangona, Kikoona, dan Hariona. Sementara di Desa Motonwutun terdapat tiga suku utama, yaitu Suku Lewerang, Lewokololodo, dan Kukunona. Kehidupan antar-suku berlangsung harmonis, dengan budaya gotong royong dan musyawarah mufakat sebagai perekat utama persatuan masyarakat.
Mayoritas masyarakat Motonwutun menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan kelautan. Beragam alat tangkap digunakan, mulai dari alat tradisional warisan leluhur seperti tombak ikan dan bubuh (nama) hingga alat tangkap modern seperti pukat hanyut, purse seine, gillnet, pancing ulur, dan pancing dasar.
“Motonwutun menjadi salah satu desa penyumbang hasil tangkapan ikan terbesar di Kabupaten Flores Timur. Sebagian besar nelayan kami bersifat mandiri, dengan armada dan alat tangkap hasil usaha sendiri, termasuk melalui pembiayaan legal seperti KUR,” jelas Mirdan.
Kaum perempuan juga berperan aktif dalam pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, sehingga turut menopang perekonomian rumah tangga.
Dalam satu dekade terakhir, Motonwutun mencatat peningkatan signifikan di bidang pendidikan. Hampir setiap rumah tangga kini memiliki lulusan sarjana strata satu (S1), bahkan sebagian melanjutkan hingga jenjang S2, S3, dan profesor. Namun demikian, keterbatasan lapangan kerja masih menjadi tantangan serius.
“SDM kami sangat besar, tetapi peluang kerja masih terbatas. Ini menjadi tantangan bersama bagi pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat,” ungkapnya.
Menyikapi kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Mirdan menilai hal tersebut sebagai tantangan untuk melahirkan pemikiran dan inovasi baru. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam, khususnya sektor kelautan,
Ia optimistis desa mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sebagai jalan menuju kemandirian.
Terkait kebijakan nasional, Mirdan menyambut baik program ketahanan pangan dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, program tersebut berpotensi besar menggerakkan ekonomi desa jika dikelola secara maksimal.
Namun, ia juga menyampaikan catatan kritis terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Program ini sangat baik, tetapi akan lebih tepat sasaran jika dibarengi dengan kebijakan penggratisan biaya pendidikan, baik di sekolah negeri maupun swasta. Ini penting agar tidak ada lagi anak bangsa yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi,” tegasnya.
Dengan fondasi adat, iman, dan gotong royong, Desa Motonwutun terus berikhtiar menjaga warisan leluhur sekaligus menata masa depan. Di tengah berbagai keterbatasan, desa pesisir di timur Pulau Solor ini membuktikan bahwa kebersamaan dan kemandirian mampu menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan zaman. Tutup Mirdan
Jurnalis: Dhika Ahmad Emon







