LAPAS GARUT DAN YAYASAN WAIBI JALIN KERJASAMA TINGKATKAN KEMANDIRIAN WARGA BINAAN MELALUI PERTANIAN REGENERATIF

Garut,Jurnalpolisi.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut dan Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) secara resmi menjalin kemitraan strategis untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang “Program Kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan di Bidang Pelatihan Pertanian Regeneratif Berbasis Kesadaran (RELEASE)”. Acara penandatanganan yang berlangsung secara sederhana di Cafe Lapas Garut pada Senin (19/01/2026) tersebut, dihadiri oleh segenap pejabat dan pegawai Lapas, pengurus Yayasan WAIBI, serta tamu kehormatan dari Kementerian PPN/Bappenas.

Program RELEASE dirancang sebagai upaya bersama dalam meningkatkan kapasitas, keterampilan, serta kemandirian WBP melalui pendekatan pertanian regeneratif, agroekologi, dan ekonomi sirkular. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif secara ekologis, sosial, dan ekonomi, serta sejalan dengan arah kebijakan pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.

Kehadiran **Anang Nugroho, Perencana Ahli Utama Bappenas**, dalam acara tersebut memberikan dimensi strategis. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif program kemandirian yang dilaksanakan di Lapas Garut. “Program seperti RELEASE ini sangat sejalan dan mendukung implementasi Program Aksi bersama yang melibatkan 15 Kementerian/Lembaga di bawah koordinasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Ini adalah contoh konkret pembinaan yang berkelanjutan dan berbasis pada pemberdayaan sumber daya lokal, yang dapat menjadi model di unit pemasyarakatan lainnya,” papar Anang Nugroho.

Dalam sambutan lainnya, Kalapas Garut, **Rusdedy**, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis. “Program ini tidak hanya sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran dan pola pikir WBP untuk menjadi insan yang mandiri dan berkelanjutan. Pertanian regeneratif dan ekonomi sirkular yang diajarkan dapat menjadi bekal berharga bagi WBP untuk kembali hidup produktif di masyarakat, sekaligus turut menjaga lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan WAIBI, **Ekanty Lusi Sulistyowaty**, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam program pembinaan. “RELEASE adalah program yang memadukan aspek teknis pertanian yang ramah lingkungan dengan pembangunan kesadaran diri. Kami percaya bahwa dengan memulihkan hubungan dengan alam melalui pertanian regeneratif, kita juga dapat memulihkan harapan dan masa depan. Kami berkomitmen mendampingi Lapas Garut dan para WBP untuk menciptakan ekosistem yang mandiri, sehat, dan berdaya tahan,” jelas Ekanty.

Program RELEASE nantinya akan mencakup serangkaian pelatihan teoritis dan praktik langsung dalam budidaya pertanian regeneratif, pengelolaan limbah organik menjadi kompos, serta pengenalan konsep ekonomi sirkular untuk menciptakan nilai tambah dari hasil pertanian. Lapas Garut menyediakan lahan dan fasilitas pendukung, sementara WAIBI menyediakan tenaga pelatih, kurikulum, dan pendampingan teknis.

Kerja sama ini tidak hanya mendapat apresiasi dari Bappenas, tetapi juga dinilai selaras dengan visi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam membentuk WBP yang siap berintegrasi kembali dengan masyarakat melalui keterampilan hidup yang produktif dan berwawasan lingkungan, sekaligus mendukung tujuan pembangunan nasional.

( Ajo )