Ajakan Atur Skor Terbongkar, Nama Pemain Persebata Terseret — Marwah Sepak Bola Lembata di Ujung Tanduk.

Lembata Jurnal Polisi.co.id-

Dugaan pengaturan skor yang menyeret internal Persebata Lembata kini tak lagi sekadar isu liar di tribun dan media sosial. Pengakuan langsung dari pemain membuka fakta bahwa upaya mengatur hasil pertandingan benar-benar terjadi, dengan nominal bayaran yang disebut mencapai Rp15 juta per pemain.

Pemain Persebata Lembata, Rizky Ujang, mengungkapkan bahwa dirinya dihubungi oleh seorang temannya bernama Dimas Gale melalui sambungan WhatsApp. Dalam komunikasi tersebut, Rizky mengaku secara terang-terangan diajak untuk melakukan pengaturan skor saat Persebata menghadapi Persikutim Kalimantan dalam laga Liga Nusantara. Hal ini diungkapkan Rizky saat dikonfirmasi wartawan Media Jurnal Polisi, Selasa (3/2/2026) siang.
Ajakan tersebut, kata Rizky, langsung ia tolak mentah-mentah. Baginya, persoalan ini bukan semata soal uang, melainkan menyangkut harga diri dan marwah sepak bola Lembata.
“Ini bukan soal saya dari mana. Saya bermain untuk Lembata, dan harga diri itu tidak bisa dibeli,” tegas Rizky.

Rizky mengakui bahwa Dimas Gale memang merupakan teman dekatnya. Keduanya sama-sama berasal dari Karanganyar, Solo, bahkan tinggal dalam satu kompleks. Namun kedekatan tersebut, menurut Rizky, tidak menjadi alasan untuk membenarkan praktik yang mencederai sportivitas.
Saat ditanya mengapa Dimas Gale tidak dihadirkan untuk dimintai penjelasan secara langsung, Rizky menyampaikan bahwa persoalan ini telah ditangani oleh Polda NTT. Ia juga mengaku telah dihubungi pihak kepolisian dan diminta tetap tenang serta tidak mengambil langkah di luar arahan aparat penegak hukum.
Rizky menyebut penanganan perkara ini bahkan telah mendapat atensi lebih lanjut, karena Mabes Polri dikabarkan telah mengantongi pembaruan terkait kasus tersebut.

Namun penolakan Rizky bukan akhir dari cerita. Nama Denis, salah satu pemain belakang Persebata Lembata, ikut terseret dalam pusaran dugaan ini terkait pertandingan Persebata Lembata kontra Persikutim Kalimantan. Dimas Gale kembali disebut menghubungi Denis dengan maksud serupa, disertai tawaran bayaran sebesar Rp15 juta per orang. Komunikasi tersebut kemudian menjadi sorotan publik setelah beredarnya video klarifikasi Denis.

Dalam video itu, Denis mengakui adanya percakapan dengan Dimas Gale, namun membantah terlibat atau menyepakati pengaturan skor.
Denis menjelaskan bahwa responsnya dalam percakapan tersebut justru dilandasi niat untuk menggali informasi lebih jauh.
“Dengan bicara begitu supaya saya bisa tahu pemain siapa yang sudah terima uang dan pemain siapa yang atur ini semua,” jelas Denis.

Menanggapi beredarnya video klarifikasi tersebut, Asisten Manajer Persebata Lembata, Syukur Wulakada, menegaskan bahwa video itu semata-mata bertujuan untuk mengetahui siapa saja pihak yang disebut dalam dugaan pengaturan skor tersebut. Hal itu disampaikan Syukur Wulakada ketika dikonfirmasi wartawan Media Jurnal Polisi. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini dua nama telah diamankan untuk dimintai keterangan, sementara dua nama lainnya masih dalam penelusuran guna memastikan siapa sosok yang berada di balik isu tersebut.

Syukur juga mengakui bahwa masyarakat Lembata merasa kecewa atas hasil akhir dan kekalahan Persebata Lembata. Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada aliran uang maupun praktik tukar-menukar dalam pertandingan yang dipersoalkan.
“Yang terpenting bagi kami, tidak ada uang yang mengalir dan tidak ada tukar-menukar dalam pertandingan ini, karena harga diri adalah segala-galanya,” tegas Syukur.

Menurutnya, beredarnya informasi tersebut wajar menimbulkan berbagai persepsi di tengah masyarakat. Namun manajemen Persebata memilih untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya pada proses yang berjalan.
“Biarlah semua ini berjalan. Kebenaranlah yang akan menjadi bukti akhir dari persoalan ini,” pungkasnya.

Rangkaian pengakuan dan klarifikasi ini mengindikasikan bahwa dugaan pengaturan skor tidak berdiri sebagai isu tunggal, melainkan membuka kemungkinan adanya pola dan aktor tertentu di balik upaya mencederai sportivitas sepak bola Lembata. Situasi ini menuntut penelusuran serius, terbuka, dan bertanggung jawab agar kebenaran tidak terkubur oleh spekulasi maupun kepentingan sempit.

Jika dugaan ini benar adanya dan tak segera dibuka secara terang, maka sepak bola Lembata bukan kalah di papan skor, melainkan runtuh di hadapan nuraninya sendiri. Diam, pembiaran, atau upaya menutup-nutupi hanya akan memperpanjang luka dan mengubah lapangan hijau menjadi ruang transaksi yang sunyi namun mematikan.

Pada titik ini, publik berhak tahu: siapa yang bermain jujur, siapa yang bermain kotor, dan siapa yang memilih membiarkan marwah Lewotana digadaikan demi Rp15 juta.

Jurnalis: Dhika Ahmad M