NAGEKEO, Jurnal Polis.
Duka kembali menyelimuti warga terdampak bencana di Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo. Seorang warga bernama Petrus Ndiwa, yang selama ini mengidap asma berat, meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit.
Kepala Desa Kotagana, Siprianus Peu membenarkan kabar tersebut ketika dikonfirmasi wartawan Jurnal Polisi, Senin (24/8/2026).
Menurut Siprianus, Petrus merupakan warganya yang selama beberapa hari terakhir berada di posko pengungsian Kampung Lina, Dusun III.
“Ini Bapak Petrus Ndiwa, warga saya yang ada di posko pengungsian Kampung Lina, Dusun 3. Beliau selama ini mengidap asma berat,” ungkap Kades Siprianus.
Ia menjelaskan, selama berada di pengungsian, Petrus harus tidur di dalam tenda dalam kondisi malam yang cukup dingin. Keterbatasan perlengkapan tidur seperti selimut dan kebutuhan lainnya disebut menjadi salah satu kondisi yang dihadapi warga di posko tersebut.
“Hanya mungkin selama beberapa malam ini tidur di tenda yang dingin tanpa ada peralatan tidur seperti selimut dan lain sebagainya. Akhirnya asma itu kambuh,” jelasnya.
Saat kondisi Petrus memburuk, pihak keluarga bersama warga kemudian membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 18.00 WITA.
Namun, upaya tersebut belum berhasil menyelamatkan nyawanya. Petrus Ndiwa dilaporkan meninggal dunia pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 07.00 WITA.
Kepala Desa Kotagana membenarkan bahwa almarhum memiliki riwayat asma berat. Sementara mengenai hubungan kondisi tenda yang dingin dengan memburuknya kondisi kesehatan korban, hal tersebut disampaikan sebagai kondisi yang terjadi selama korban berada di pengungsian dan tetap memerlukan penjelasan medis untuk memastikan penyebab kematian secara medis.
Meninggalnya Petrus Ndiwa menjadi perhatian serius di tengah kondisi sekitar 930 warga Kotagana yang masih bertahan dalam situasi pascabencana.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebutuhan warga di lokasi pengungsian tidak hanya sebatas makanan dan air minum. Selimut, tikar, tempat tidur yang layak, perlindungan dari suhu dingin, serta pelayanan kesehatan bagi warga dengan penyakit bawaan juga menjadi kebutuhan mendesak.
Pemerintah Kabupaten Nagekeo sebelumnya telah menyatakan akan mengupayakan bantuan pangan sekitar 5 kilogram beras untuk setiap jiwa bagi warga terdampak. Dengan jumlah 930 jiwa, kebutuhan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 4,65 ton beras.
Namun, kabar meninggalnya Petrus Ndiwa menjadi pengingat bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh.
Di tengah warga yang masih tidur di tenda dan menghadapi keterbatasan perlengkapan dasar, setiap kebutuhan yang menyangkut keselamatan dan kesehatan tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil.
Kini, perhatian publik dan pemerintah kembali tertuju pada kondisi para pengungsi di Kotagana, khususnya warga lanjut usia, anak-anak, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit dan membutuhkan penanganan khusus.
Jurnalis: Dhika Ahmad M







