Harga Telur Ayam Terus Anjlok, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan

JP Kab Bandung.

Bandung. jurnalpolisi.co.id – Harga telur ayam terus anjlok di beberapa pekan terakhir. Terlihat dengan harganya yang sudah berada di bawah Rp 20 ribu per kilogram yakni hanya berkisar di Rp 19 ribu hingga Rp 19,5 ribu saja per September 2021.

Kondisi ini tentu memukul usaha para peternak ayam petelur atau layer. Ketua Umum Asosiasi Peeternak Layer Nasional Musbar Mesdi mengatakan, tren penurunan harga telur ayam ras sudah dimulai sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat awal Juli lalu dan berlanjut hingga saat ini.

Diketahuhi, harga telur di tingkat peternak per 11 September 2021 lalu adalah Rp 14.500 per kg, padahal Harga Pokok Produksi (HPP) adalah Rp 22.000 per kg. Alhasil, dengan kondisi saat ini peternak mengalami kerugian.

“Kerugian peternak sekitar Rp 5.000 per kg, ini kondisi yang luar biasa,” ujar Musbar.

Situasi peternak dinilai semakin sulit lantaran harga jagung sebagai pakan ternak mengalami kenaikan. Saat ini harganya sekitar Rp 6.000 per kg untuk kadar air 15 persen, sedangkan untuk kadar air 16-17 persen  sebesar Rp 5.850 per kg.

Musbar juga membantah harga jagung yang diterima peternak sekitar Rp 5.400 0 Rp 5.500 per kg. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah segera turun tangan.

Menurutnya, ada dua kebijakan yang perlu dilakukan untuk stabilisasi harga telur di tingkat peternak. Pertama, menyediakan jagung untuk pakan sesuai harga yang ditetapkan pemerintah yakni, Rp 3.150 per kg.

Kedua, pemerintah perlu menyerap telur peternak sesuai ketentuan harga pemerintah, yakni Rp 19.000 – Rp 21.000 per kg untuk dimasukkan dalam paket bantuan sosial (bansos) pemerintah.

Adapun, pengamat Pertanian dari Universitas Santo Thomas Posman Sibuea mengungkapkan, perlindungan kepada peternak ayam harus dari hulu ke hilir. Untuk di hulu, pemerintah harus menjamin ketersediaan dan stabilisasi harga bibit ayam atau day old chick (DOC) serta pakan. Sementara untuk di hilir adalah soal jaminan harga jual ditingkat petani agar tak berfluktuasi.

(Asep Septori).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + 8 =